A language of love

 


     Pinterest ( https://pin.it/s8RIH5s8Y)

“A sincere person will give birth to a beautiful love” -hik

“Kapan kamu membuka lembaran baru untuk mengenal orang baru?” itu pertanyaan yang selalu dilontarkan orang-orang di sekelilingku. Entah bagaimana aku menjawabnya, dan diriku pun masih bertanya-tanya akan hal ituTerkadang itu menjadi pertanyaan yang menjengkelkan bagiku.  

Dua insan yang awalnya penuh cinta sejenak, tetapi entah dia berbohong atau aku yang terlalu bodoh mempercayainya? Aku tak tahu.

Setelah mengalami fase patah hati terbesar dalam hidupku apakah aku harus secepat itu menemukan penggantinya?

Mungkin orang-orang beranggapan diriku belum bisa melupakan dirinya. Tapi, nyatanya tidak. Itu bukan alasan untuk aku tidak mengenal orang baru. 

Aku berusaha untuk melupakannya sendiri, menahan rasa sakit itu sendiri, menahan rasa kecewa itu sendiri, menerima rasa kesepian itu sendiri tanpa dirinya, lantas apakah pantas aku mengingatnya lagi? 

Terkadang aku sedikit iri dengan orang-orang yang dicintai dengan tulus oleh pasangannya, mengapa aku tidak merasakan hal itu dulu?

Tetapi, aku menilai semua itu salah. Bukan keadaannya yang salah, tetapi aku yang terlalu terburu-buru memilih pasangan.



Dibutakan oleh cinta itu ada, sehingga menimbulkan rasa sakit yang mendalam dan membekas itu nyata, Aku buktinya.

Akan tetapi, aku salut dengan orang yang bisa memperjuangkan hubungannya. Kita tidak tahu sekuat apa mereka mempertahankan hubungannya, badai apa yang mereka lewati, menurunkan rasa egonya satu sama lain, sampai dengan  berhasil mendewasakan hubungannya.

—— Fase di mana orang mengalami “butterfly era” seakan-akan semua hari-hari terasa berwarna dan aku harap aku bisa kembali merasakan hal itu.

Aku juga ingin seperti orang lain yang dicintai dengan tulus. Tetapi, aku juga berpikir orang lain mempertahankan hubungannya sejauh mana? apa tantangan yang mereka lewati sampai sejauh ini? Pernahkah kalian memikirkannya juga?

Tidak sedikit orang juga mengalami kekerasan dalam hubungan, mulai dari perselingkuhan, kekerasan, kebohongan, rasa egois, dan sifat ke kanak-kanakan yang masih melekat pada diri seseorang. Seakan-akan itu mendorong diriku menjadikan itu semua sebuah alasan untuk tidak menerima orang baru untuk saat ini, kuharap ini pikiran jengkel ku saja.

—— Berjuang sendiri dalam suatu hubungan bukanlah hubungan yang sehat. Orang yang menjalani hubungan ialah adanya dua orang yang saling terikat satu sama lain, bukan hanya tentang “kesendirian” dalam hubungan.

Sebut saja, ketika ada masalah dalam suatu hubungan, tak segan-segan rasanya ingin mengakhiri hubungan itu. Namun, tanpa kita sadari bahwa itu bukan suatu solusi melainkan itu awal dari kehancuran suatu hubungan atau mungkin saja itu fase di mana hubungan diuji tentang bagaimana seseorang mempertahankan hubungannya dalam kondisi yang seperti itu.

“Hubungan yang sehat terlahir dari orang-orang yang bisa melawan badainya, bukan meninggalkan badainya.”

"If someone has a problem, he runs to God not to someone else”, someone said

Itu adalah salah satu kata-kata yang membuatku tersentuh. Tanpa disadari, aku selalu memikirkan kata-kata itu. Cobalah untuk pikirkan sejenak.

Terlebih lagi mungkin orang yang menjalani hubungan dengan “beda agama”.
“Temboknya terlalu tinggi untuk digapai”. “kita sehati, tetapi kita berbeda iman”, pendapat seseorang ketika ditanya tentang hubungan beda agama bahkan banyak kata-kata lain yang terlontarkan.

—— Fase di mana orang yang menjalin hubungan beda agama merasa bimbang kedepannya seakan-akan tidak tahu akan seperti apa.

—— Fase di mana orang berpikir untuk menghentikan hubungannya tersebut atau tetap mempertahankannya dengan berbeda jalur yang ditempuh. Itu semua berbalik kepada orang yang menjalaninya.

Akan tetapi, ada juga pasangan beda agama yang menjalaninya secara sehat. Hubungan beda agama yang positif didasarkan pada saling menghormati keyakinan, komunikasi terbuka, dan kesediaan untuk memahami perbedaan. Kunci keberhasilannya adalah toleransi serta kesepakatan dalam hal-hal penting, seperti nilai-nilai keluarga dan spiritualitas. Dengan komitmen yang kuat, perbedaan agama bisa menjadi kekuatan yang memperkaya hubungan, bukan penghalang.

Mungkin di sini aku berpikir dan menyadari bahwa semua orang memiliki jalannya masing-masing untuk menemukan cinta yang tulus. Membuka lembaran baru butuh waktu lama terlebih lagi untuk menyembuhkan luka yang ada pada bab sebelumnya.

Tuhan, sedalam apapun perasaanku sekarang, aku tak akan memintanya kembali. (@niarnz)

— Dia memang pernah menjadi bagian bahagia sementara, bersama dengan waktu yang lama, banyak hal yang sudah di lalui dengannya, mungkin butuh waktu lama untuk aku menghapusnya. 

— Aku mencintainya, namun takdir berkata berbeda. lantas aku harus menerimanya, Tidak kan Tuhan?

“Tuhan, aku ingin dipertemukan dengan sosok lelaki yang bisa membimbingku ke jalan yang benar bukan ke jalan yang salah, dan Aku tahu kau akan mendengar segala apa yang kuharapkan itu suatu saat nanti.” -hik

Untuk orang-orang yang merasakan hal seperti ini, kuharap jangan membalas dendam dengan merugikan dirimu sendiri. Akan tetapi, balas dendamlah ke hal yang positif seperti membuat diri kita menjadi lebih baik. Banyak hal yang bisa kita kembangkan terhadap diri kita. Dengan new mindset, new habits, new body, new skills, new networks jauh lebih indah dibandingkan mencari pelampiasan.

Aku berpikir, “sudah sejauh ini aku melangkah sendiri tanpa dirinya. Ternyata kisahku dan dirinya sudah selesai. Hiduplah lebih indah serta berkelanalah sejauh mungkin sampai kau menemukan cinta yang tulus itu.”

“Kuharap Aku dan kamu bisa menemukan banyak cinta“.-hik






Komentar

Postingan populer dari blog ini

When I Found Myself Between Paragraphs

Moments Behind the Conservation Team

Seni Menjadi Perempuan